Minggu, 09 Mei 2010

Intelegent Traffic System di Indonesia

Perkembangan dunia teknologi informasi berimbas ke semua bidang kehidupan manusia tidak terkecuali di bidang perhubungan lalulintas atau jalan raya. Beberapa penelitian sedang dikembangkan untuk membentuk suatu sistem kontrol lalulintas menggunakan perkembangan dunia IT tetapi memang belum seluruhnya ditangani oleh sistem, tetap peran manusia juga masih dibutuhkan untuk menjalankan sistem tertentu. Bahkan di beberapa negara di Eropa sudah berhasil mengimplementasikan teknologi ini dan negara Jepang sudah berpengalaman dalam hal ini. Intellegent Traffic System merupakan salah satu teknologi dari TCS (Traffic Control System) yang dibentuk untuk memudahkan pekerjaan manusia dalam mengatur lalulintas pada seperti di negara-negara yang padat kendaraannya.
Contoh aplikasinya adalah Intelegent Traffic Light Control System (ITLCS) adalah suatu teknologi yang sangat berperan dalam menentukan pergantian lampu lalulintas dijalan yang disesuaikan dengan situasi dari jalanan tersebut, tidak statis dan kaku seperti punya kita di Indonesia. Kita lihat di negara kita lampu lalulintas akan berganti warna sesuai dengan waktu yang telah diberikan atau menurut kepadatan jalan tersebut artinya apabila lampu merah berganti setiap 2 menit maka walaupun jalanan sangat padat atau kosong 'melompong' akan memakan waktu yang sama. Tetapi dengan menggunakan ITLCS, maka lampu lalulintas akan berganti sesuai dengan kepadatan kendaraan dijalan tersebut dengan menggunakan CCTV yang terintegrasi dengan penggunaan algoritma fuzzy maka 'green time' akan menyesuaikan dengan keadaan dari jalan tersebut.
  
Pembahasan berikutnya adalah salah satu sistem yang pernah dicoba untuk diimplementsaikan di Bandung yaitu Area Traffic Control System (ATCS) yang pernah dikelola oleh Polwiltabes bekerjasama dengan Dishub tetapi hingga saat ini tidak ada kabarnya lagi, padahal pada saat awal rencana pengembangannya sangat terlihat serius sekali tetapi sampat saat ini beritanya tidak terdengar lagi.

Sebagaimana kita tahu bahwa pemerintah juga terlihat belum mendukung aplikasi pintar ini. Kita dapat rasakan di jalan tol yang notabene merupakan awal atau gerbang pengembangan sistem ini tetapi sepertinya hingga saat ini belum ada beritanya. Tutup buka gerbang tol otomatis seharusnya merupakan lahan hijau yang bisa digarap oleh Dishub dengan tim IT-nya bekerjasama dengan pemerintah kota atau negara kalau memang perlu, hingga saat ini tutup buka gerbang tol masih manual dengan HT(Handy Talky) yang terkadang malah bisa membuat jalanan menjadi lebih macet.
  
Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia terkenal dengan kepadatan penduduknya apabila sistem ini dapat diimplementasikan maka kepadatan penduduk baik dijalan raya dan di tempat lainnya dapat diatasi dengan sebuah sistem tertentu. Sehingga dibutuhkan komitmen dari setiap stakeholder yang berperan untuk dapat saling membahu agar dapat tercipta negara yang teratur dan rapih. Saran saya pertama mungkin dibuat suatu center of trafic control system yang nantinya ini akan terintegrasi dengan seluruh sistem kontrol lalulintas yang berada dijalan raya, tol, atau dimanapun berada. Memang kondisi geografi juga mempengaruhi tetapi untuk sementara ini kita fokuskan di kota-kota besar yang 'langganan' macet. Kedua selain mencoba untuk membuat sistem lalulintas terkontrol, kita juga tetap bekerjasama dengan analisis dari GIS (Geographic Information System) yang memang harus saling bekerjasama, Ketiga pencarian investor atau penggalang dana yang sekiranya memang sangat cocok untuk pendanaan proyek ini sehingga tidak akan terjadi istilah 'gagal ditengan jalan'.

2 komentar: